Kategory
Kutai Kartanegara,
18-05-2026 12:33:52
(Bupati Kukar Aulia Rahman Basri saat menghadiri Forum Diskusi Publik di TAS)
PILAR KALTIM : Semangat perjuangan Sultan Aji Muhammad Idris kembali dihidupkan di tengah generasi muda melalui Forum Diskusi Publik Harbuknas dan Harkitnas 2026 yang berlangsung di Tangga Arung Square (TAS), Tenggarong, Senin (18/5/2026).
Mengusung tema Pahlawan Nasional Sultan Aji Muhammad Idris Spirit Masa Silam dan Teladan Masa Kini, forum tersebut menghadirkan budayawan Kalimantan Timur Muhammad Sarip, Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri, serta Pemuda Pelopor Kaltim 2024 bidang pendidikan, Ada Al Ali Murrabbaniah.
Kegiatan yang digagas Lasaloka KSB bersama SMSI Kutai Kartanegara itu dihadiri pelajar, mahasiswa, jurnalis, komunitas literasi, hingga perwakilan OPD di lingkungan Pemkab Kukar.
Diskusi dipandu praktisi media Kalimantan Timur, Ricardo Bobby Lolowang.
Dalam pemaparannya, Muhammad Sarip menegaskan bahwa Sultan Aji Muhammad Idris bukan sekadar tokoh Kesultanan Kutai Kartanegara, tetapi pejuang besar Nusantara yang jejak perjuangannya melampaui Kalimantan Timur.
“Sultan Aji Muhammad Idris merupakan pejuang yang turut membantu Sultan Wajo melawan VOC, perusahaan dagang yang ingin merampas kedaulatan Nusantara pada abad ke-18,” ungkapnya.
Sarip menjelaskan, keteladanan Sultan AM Idris tercermin dalam tiga sisi utama, yakni sebagai tokoh budaya Kutai, pejuang anti-penjajahan, dan ulama yang membawa dakwah Islam secara inklusif.
Ia juga menyebut Sultan AM Idris sebagai sosok intelektual Islam yang berpengaruh pada masanya. Salah satunya melalui penyusunan kitab konstitusi kesultanan *Panji Salatin* hingga Undang-Undang Beraja Nanti.
“Ini membuktikan bahwa Tanah Kutai sejak dulu melahirkan tokoh besar yang berpengaruh bagi Nusantara,” jelasnya.
Sarip turut mengingatkan luasnya wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara di masa lalu yang mencakup berbagai daerah di Kalimantan Timur, termasuk kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Balikpapan, Samarinda, Bontang, Kutai Timur, Kutai Barat, bahkan kawasan IKN, dahulu merupakan bagian dari wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara,” tegasnya.
Sementara itu, Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengaku semakin dekat secara emosional dengan sosok Sultan AM Idris setelah mempelajari sejarah perjuangannya melalui buku pengusulan gelar pahlawan nasional.
Menurut Aulia, nilai patriotisme Sultan AM Idris masih sangat relevan diwariskan kepada generasi muda saat ini.
“Beliau memiliki kenyamanan dan kekuasaan, tetapi rela meninggalkan semuanya demi membantu melawan VOC dan membela tanah kelahirannya,” ujarnya.
Aulia menilai keberanian meninggalkan zona nyaman demi perjuangan menjadi pelajaran penting bagi generasi muda Kukar di tengah tantangan zaman.
“Kalau dulu melawan penjajah, hari ini kita sedang berjuang menghadapi masa depan,” katanya.
Ia juga mengajak generasi muda untuk bangga terhadap identitas daerah dan sejarah lokal agar tidak tumbuh dengan rasa minder.
“Orang tua dulu bilang jangan ekstra kecoka, jangan minder,” ucapnya yang disambut tepuk tangan peserta.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah Kutai, Pemkab Kukar mulai mengabadikan nama Sultan AM Idris di sejumlah fasilitas publik, termasuk rumah sakit daerah.
“Nama beliau harus terus digaungkan. Muatan lokal di sekolah juga harus mengenalkan Sultan Aji Muhammad Idris agar anak-anak bangga mengatakan mereka cucu Sultan Aji Muhammad Idris,” tegasnya.
Aulia juga menilai Kutai Kartanegara memiliki posisi penting dalam sejarah Kalimantan Timur.
“Kalau Samarinda dan Balikpapan dikenal sebagai pusat ekonomi, maka asal muasal Kalimantan Timur ada di Kutai Kartanegara,” tandasnya.
Di sisi lain, Ada Al Ali Murrabbaniah atau Alda menilai semangat perjuangan Sultan AM Idris dapat diterapkan generasi muda melalui bidang masing-masing, baik pendidikan, kreativitas, maupun kontribusi sosial.
“Saya yakin pemuda hari ini bisa menerapkan jiwa kepemimpinan Sultan Aji Muhammad Idris dalam kehidupan mereka,” tuturnya.
Ketua SMSI Kukar Angga Triandi berharap forum tersebut mampu memperluas wawasan generasi muda mengenai sejarah perjuangan Sultan AM Idris sebagai pahlawan nasional asal Kutai dan Kalimantan Timur.
“Nilai perjuangan dan kepemimpinan Sultan Aji Muhammad Idris masih relevan sampai sekarang.
Semangat literasi sejarah ini penting ditanamkan kepada pemuda di era saat ini,” katanya.
Menariknya, di penghujung kegiatan para narasumber menerima plakat berbahan daur ulang hasil karya Gerakan Penggiat Daur Ulang Sampah Kukar bersama EO Sinar Intan. Simbol itu menjadi pesan bahwa menjaga sejarah dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Kegiatan tersebut turut mendapat dukungan dari Bankaltimtara, SKK Migas, dan Pertamina Hulu Mahakam (PHM).
Forum literasi publik ini menjadi upaya menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap Sultan Aji Muhammad Idris sebagai satu-satunya pahlawan nasional asal Tanah Kutai dan Kalimantan Timur. Di tengah derasnya budaya populer dan mulai memudarnya literasi sejarah lokal, sosok Sultan AM Idris kembali dihadirkan sebagai teladan tentang keberanian, pengorbanan, dan cinta terhadap Nusantara.
(Yun)
Tags:
Hari Kebangkitan Nasional
aulia rahman basri
bupati kutai kartanegara
Hari Buku Nasional
Kutai Kartanegara
pasar tangga arung
Tangga Arung Square
1 day ago
14-10-2026 13:35:44
14-10-2026 13:40:04
13-10-2026 17:13:27
12-10-2026 13:45:04
10-10-2026 14:14:40