Danau Semayang Mengering, Wisatawan Berburu Sunset di Hamparan Savana

                                                                                                                                                                   Kutai Kartanegara

Fenomena wisata Danau Semayang mulai mengering yang menjadi daya tarik wisatawan akibatkan oleh Cuaca Kemarau (Ist)


PILAR KALTIM - Musim kemarau kembali mengubah wajah Danau Semayang di Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara (Kukar). Hamparan daratan yang muncul akibat surutnya air membentuk padang savana musiman di tengah danau dan mulai menjadi magnet baru bagi wisatawan.

Fenomena tersebut mulai ramai dikunjungi dalam beberapa hari terakhir. Wisatawan datang untuk menikmati bentang alam yang berbeda dari kondisi danau biasanya, terutama menjelang sore ketika panorama matahari terbenam mulai terlihat.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) 3B Desa Pela, Alimin, mengatakan kawasan savana baru dapat diakses secara lebih leluasa sekitar lima hari terakhir.

Sebelumnya, sebagian daratan yang muncul masih berlumpur dan beberapa kali kembali terendam akibat perubahan muka air.

“Sekarang air sudah kembali surut sehingga daratan mulai menghijau dan bisa dikunjungi. Kalau kemarau bertahan, kawasan yang terbuka ini kemungkinan masih akan semakin luas,” ujar Alimin, Jumat (7/8/2026).

Menurutnya, luas padang savana tahun ini memang belum menyamai kondisi pada musim kemarau tahun sebelumnya. Namun, kemunculan pulau-pulau kecil di tengah danau tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Menjelang sore, kawasan tersebut mulai dipadati pengunjung yang ingin menikmati suasana senja.

Tak sedikit wisatawan yang membawa drone untuk mengabadikan lanskap savana dari udara.

“Pengunjung biasanya mulai berdatangan sekitar pukul 16.00. Mereka ingin melihat sunset sekaligus mengambil gambar hamparan savana dari atas menggunakan drone,” katanya.

Fenomena alam tersebut juga memberikan dampak terhadap aktivitas wisata masyarakat setempat. Permintaan jasa transportasi air seperti kapal ces, longboat, hingga perahu kecil ikut meningkat seiring bertambahnya wisatawan yang ingin menuju kawasan savana.

Wisatawan yang datang melalui Pokdarwis akan diarahkan kepada warga yang menyediakan jasa perahu.

Untuk perjalanan menggunakan longboat dari Kota Bangun, tarif pulang-pergi berada di kisaran Rp600 ribu, sedangkan dari Liang Ulu sekitar Rp500 ribu.

Paket perjalanan tersebut tidak hanya membawa wisatawan menuju Danau Semayang. Pengunjung juga dapat mengikuti susur sungai dan wisata edukasi untuk melihat pesut Mahakam yang menjadi salah satu daya tarik utama Desa Pela.

Sementara itu, wisatawan yang memilih menggunakan perahu kecil dapat memperoleh tarif sekitar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu untuk perjalanan pulang-pergi. Pengunjung juga bisa mencoba aktivitas paddle board dengan tarif Rp50 ribu per jam atau Rp25 ribu untuk durasi 30 menit.

Alimin menyebut puncak kunjungan ke kawasan savana biasanya terjadi pada pertengahan Agustus apabila kondisi kemarau terus berlangsung.

Karena itu, pihaknya memperkirakan jumlah wisatawan masih berpotensi meningkat dalam beberapa pekan mendatang.

“Kalau kondisi kemarau terus bertahan, biasanya pertengahan Agustus kunjungan mulai lebih ramai. Saat itu hamparan daratan di danau biasanya sudah semakin luas dan hijau,” ungkapnya.

Di luar fenomena savana, kunjungan wisata ke Desa Pela sepanjang tahun ini juga menunjukkan peningkatan. Menurut Alimin, wisatawan tidak hanya tertarik dengan panorama Danau Semayang, tetapi juga ingin melihat dan mempelajari keberadaan pesut Mahakam.

“Sejak Januari sampai sekarang kunjungan memang meningkat.

Daya tariknya bukan hanya savana, tetapi juga wisata edukasi pesut. Wisatawan yang datang pun beragam, ada dari Balikpapan, Jakarta, dan daerah lainnya,” pungkasnya. (Nur)

Iklan pilarkaltim.com

Tags:

Danau Semayang

Kota Bangun

Kutai Kartanegara