Kategory
Ekonomi,
Kutai Kartanegara,
16-06-2026 14:36:02
(Pemilik Toko Kopi Tana, Azan. (PKaltim)
PILAR KALTIM: Secangkir kopi yang tersaji di meja pelanggan mungkin terlihat sama seperti biasanya. Namun di balik minuman itu, pelaku usaha kedai kopi kini menghadapi persoalan baru yang perlahan menambah beban operasional mereka: harga cup plastik yang terus merangkak naik.
Bagi banyak coffee shop, cup plastik bukan sekadar kemasan. Produk tersebut menjadi bagian penting dalam melayani pelanggan, terutama untuk pesanan minuman yang dibawa pulang.
Ketika harganya naik, biaya operasional pun ikut terdorong.
Kondisi itu mulai dirasakan pelaku usaha di Kutai Kartanegara, salah satunya Toko Kopi Tana di Kecamatan Tenggarong.
Pemilik Toko Kopi Tana, Azan, mengaku kenaikan harga kemasan plastik sudah cukup terasa dalam beberapa waktu terakhir. Meski begitu, ia memilih belum membebankan tambahan biaya tersebut kepada pelanggan.
“Untuk saat ini saya masih menahan kenaikan harga jual. Kenaikan harga plastik masih saya tanggung sendiri supaya harga ke konsumen tetap sama,” ujarnya, Selasa (16/6/2026).
Di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, menjaga harga minuman tetap stabil dianggap sebagai langkah yang paling bijak.
Namun, keputusan itu juga membuat pelaku usaha harus mengurangi margin keuntungan yang diperoleh.
Menurut Azan, jika harga cup plastik terus meningkat, sejumlah penyesuaian kemungkinan tidak dapat dihindari.
Salah satu opsi yang mulai dipertimbangkan adalah mengurangi penggunaan kemasan plastik dan mendorong pelanggan menikmati minuman menggunakan gelas di tempat.
“Kalau ke depan harga plastik terus naik, mungkin saya akan mengurangi penggunaan cup plastik dan beralih menggunakan gelas. Itu salah satu langkah yang paling mungkin dilakukan,” katanya.
Pilihan lain sebenarnya tetap ada, yakni menaikkan harga jual minuman. Namun langkah tersebut masih menjadi opsi terakhir yang ingin dihindari.
“Pilihan lainnya tentu menaikkan harga jual, tapi itu masih menjadi opsi terakhir,” ujarnya.
Kenaikan harga plastik sendiri disebut-sebut tidak lepas dari situasi global.
Plastik merupakan produk turunan minyak bumi sehingga gejolak harga energi dan terganggunya rantai pasok internasional ikut memengaruhi harga bahan baku kemasan di dalam negeri.
Azan mengaku memahami bahwa persoalan tersebut dipengaruhi banyak faktor di luar kendali pelaku usaha kecil.
“Terkait kenaikan harga plastik, setahu saya memang ada kaitannya dengan situasi geopolitik. Jadi saya juga kurang tahu apa yang bisa dilakukan di tingkat lokal untuk mengatasinya,” katanya.
Beruntung, kenaikan harga kemasan belum diikuti lonjakan pada seluruh bahan baku lainnya. Untuk kebutuhan kopi, misalnya, Toko Kopi Tana menggunakan produk lokal sehingga tidak terlalu terdampak oleh fluktuasi pasar internasional.
“Kalau bahan baku lain relatif stabil.
Kebetulan saya menggunakan kopi lokal, jadi tidak terlalu terdampak. Mungkin berbeda kalau menggunakan kopi impor,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengaku masih menghadapi persoalan lain, yakni pasokan susu yang mulai sulit diperoleh.
“Kalau di tempat saya, yang cukup langka justru susu. Untuk bahan lainnya masih relatif aman,” ujarnya.
Bagi pelaku UMKM, kenaikan harga cup plastik mungkin terdengar sepele.
Namun dalam praktiknya, biaya tambahan beberapa ratus rupiah pada setiap kemasan dapat berdampak besar terhadap perhitungan usaha yang dijalankan setiap hari.
“Kenaikan harga plastik memang cukup memberatkan. Untuk sekarang saya masih belum menaikkan harga jual, tetapi memang dampaknya cukup terasa bagi pelaku usaha,” kata Azan.
Untuk sementara, penggunaan gelas dan mengurangi ketergantungan terhadap kemasan plastik menjadi solusi yang paling realistis bagi usahanya.
“Kalau harus mencari solusi, penggunaan gelas dibanding cup plastik mungkin yang paling masuk akal untuk sementara waktu,” pungkasnya.
Di tengah tekanan biaya yang terus meningkat, pelaku usaha kecil kini dituntut lebih kreatif untuk bertahan. Sebab, ketika harga bahan baku naik, pilihan yang tersedia sering kali tidak mudah: menaikkan harga dan berisiko kehilangan pelanggan, atau menahan harga dan menerima keuntungan yang semakin menipis.
(Oby)
Tags:
Coffee Shop Tenggarong
Kutai Kartanegara
Tenggarong
UMKM
umkm kukar
umkm lokal
1 day ago
14-10-2026 13:35:44
14-10-2026 13:40:04
13-10-2026 17:13:27
12-10-2026 13:45:04
10-10-2026 14:14:40