Anak di Kukar Kekurangan Ruang Aman dari Kekerasan

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Advertorial
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Diskominfo Kutai Kartanegara
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           Kutai Kartanegara

Plt. Kepala Dinsos Kukar, Yuliandris


PILAR KALTIM  - Plt. Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kutai Kartanegara (Kukar), Yuliandris, menyoroti kondisi perlindungan anak yang dinilainya masih jauh dari kata aman. 

Menurutnya, kasus pelecehan dan kekerasan bukanlah kejadian yang terisolasi, melainkan masalah yang sudah merata di berbagai lini kehidupan anak-anak. Ia menegaskan, tidak ada satu pun ruang yang benar-benar bebas dari potensi ancaman. 

Di sekolah, anak-anak masih berhadapan dengan perundungan dan perkelahian antarsiswa.

Di pesantren, kasus pelecehan seksual kerap mencuat. Bahkan dalam keluarga yang mestinya menjadi benteng perlindungan, justru banyak ditemukan pelaku berasal dari orang terdekat korban sendiri. 

"Anak-anak kita sekarang ini dapat dikatakan tidak ada tempat yang aman. Baik sekolah, pesantren, maupun keluarga, semua menyimpan risiko yang besar," ungkapnya, pada Rabu (20/8/2025). 

Yuliandris menilai bahwa pola penanganan kasus yang selama ini lebih menekankan pada penyelesaian setelah kejadian, harus segera diubah menjadi strategi pencegahan.

Ia menekankan, menunggu kasus baru mencuat sama saja membiarkan semakin banyak anak menjadi korban. 

"Tindakan yang harus segera dilakukan bukan hanya fokus pada satu kasus, tetapi bagaimana mencegah agar kejadian tidak terulang lagi," tegasnya.

Ia juga menyinggung bahwa banyak anak tidak sadar ketika dirinya sudah menjadi korban pelecehan. Menurutnya, pelecehan tidak selalu berbentuk sentuhan fisik, tetapi bisa juga berupa kata-kata yang merendahkan martabat anak. 

"Secara lisan pun bisa dikatakan pelecehan seksual. Hal ini harus dipahami anak-anak agar mereka tidak takut bicara," jelasnya.

Karena itu, ia mendorong pendidikan seksual sejak usia dini sebagai upaya penting untuk memperkuat kesadaran anak.

Anak-anak, kata dia, harus dikenalkan sejak kecil mengenai bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh oleh orang lain. 

"Bahkan seorang ayah pun tidak boleh sembarangan menyentuh bagian sensitif anak perempuan. Itu harus disampaikan sejak dini agar anak-anak tahu batasan," terangnya.

Lebih jauh, ia menekankan perlunya memberikan arahan yang jelas kepada anak mengenai langkah yang bisa ditempuh ketika menjadi korban. 

"Mereka harus tahu apa yang disebut pelecehan seksual, baik secara fisik maupun lisan. Dan kalau diperlakukan seperti itu, mereka harus tahu lapor ke siapa, bicara dengan siapa.

Itu belum banyak diketahui anak-anak kita sekarang," ujarnya.

Namun Yuliandris mengakui, program semacam ini belum berjalan maksimal di Kukar. Ia menyebut, pemerintah masih punya kelemahan dalam mendorong sosialisasi secara menyeluruh ke sekolah, pesantren, maupun masyarakat luas. 

Ia menekankan bahwa seluruh lembaga pendidikan, baik formal maupun nonformal, harus menjadi garda depan dalam melindungi anak. 

"Semua harus melakukan sosialisasi, pengenalan pendidikan seks, dan pengenalan tindakan pelecehan seksual agar anak-anak sadar sejak awal," jelasnya.

Menurutnya, tanpa pencegahan yang sistematis, anak-anak akan terus terjebak dalam lingkaran ketakutan. Ia menegaskan bahwa masalah ini harus segera ditangani bersama-sama agar generasi muda Kukar terlindungi. 

"Kalau anak-anak sadar sejak dini, mereka tidak akan takut bicara dan tahu bagaimana melindungi diri," tandasnya.

(Adv/yun)

Iklan pilarkaltim.com

Tags:

Diskominfo Kukar